Tuesday, 12 January 2016

Gara-gara Minyak, Puluhan Perusahaan Migas di AS Bangkrut

Harga minyak dunia merosot lebih dari 5% pada sesi perdagangan hari Senin ke area $30 per barel. Fenomena ini memunculkan ketakutan kalau perusahaan-perusahaan energi di Amerika segera bangkrut.

Tiga bank investasi besar, yakni Morgan Stanley, Goldman Sachs Group Inc. dan Citigroup Inc, yakin kalau minyak akan tembus ke bawah $30 untuk kemudian beringsut ke $20 per barel. Selain dipengaruhi oleh kelesuan ekonomi China dan apresiasi Dollar, minyak masih rentan karena banyak perusahaan tambang belum menghentikan operasionalnya meski marjin keuntungan semakin kecil.

Sepertiga produsen migas di Amerika terancam bangkrut dan harus di-restrukturisasi di pertengahan 2017 mendatang (data Wolfe Research). Sekuat apapun bangkit, minyak maksimal baru bisa normal jika mampu tembus ke area $50 atau sekitar $20 lebih tinggi dibandingkan posisinya saat ini.

Lebih dari 30 perusahaan energi di Amerika dengan hutang gabungan $13 miliar sudah menyatakan pailit sejak harga minyak turun drastis. Morgan Stanley bahkan menyebut kondisi sekarang lebih buruk dibandingkan tahun 1986, periode di mana harga minyak terakhir kali merosot paling tajam. Bahkan periode pemulihannya diprediksi lebih lama dibandingkan tahun 1970 dulu.

Seperti diberitakan sebelumnya, harga minyak mentah dunia lagi-lagi anjlok di sesi perdagangan Asia hari ini. Investor melakukan aksi jual karena tidak yakin dengan kondisi ekonomi China dan khawatir dengan banjir suplai di pasar.

Kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) terpantau makin dekat ke area $30-an atau tepatnya sekarang berada di $30.53 per barel, turun sekitar $1 dibandingkan harga penutupan Globex kemarin. Minyak terjebak di posisi terendah dalam 12 tahun terakhir, dan belum menunjukkan gejala bangkit dari koreksi 5% yang dialaminya semalam. Sementara di saat yang sama Brent crude di ICE Futures untuk pengiriman Februari anjlok $0.32 ke $31.23 per barel. Keduanya sudah koreksi 17% sepanjang tahun 2016.

Gejolak yang terjadi di pasar saham China membuat investor takut dengan kemunduran ekonomi di slah satu negara konsumen energi terbesar itu. Indeks utama Tiongkok mengalami hari trading terpendek dalam 25 tahun terakhir pada hari Kamis lalu dengan pelemahan mencapai 7%. Secara otomatis sistem menghentikan sesi perdagangan selama sehari penuh untuk meredam kepanikan.

Di saat yang sama, volume minyak di pasar kemungkinan bertambah banyak karena embargo Iran sudah dicabut. Negara ini segera bisa melakukan aktivitas ekspor energi ke luar negeri sehingga pasar komoditas diprediksi banjir pasokan tahun ini. Pelaku pasar semakin enggan mengoleksi minyak mentah karena Dollar sedang tinggi, membuat minyak jadi mahal.



--
Best Regards,


Arphan Ghan
PT Monex Investindo Futures
Plaza Kelapa Gading Inkopal Blok C No.12 B
Jl. Boulevard Barat Raya, Kelapa Gading Jakarta Utara 14240 - Indonesia
Phone      : 021-28063856 ext: 106
Mobile      : 0812-9378-6147
Watsap     : 0877-8004-5144
Pin           : 21804F77
YOUR No. 1 Financial Partner

No comments:

Post a Comment